Rakyat Lebih Memilih Uang Daripada Figur

Pemilu Legislatif telah berlalu dan tinggal menunggu hasil perhitungan suara yang di lakukan oleh KPU setelah itu barulah bisa di ketahui siapa yang menjadi pemenang dalam pemilu kali ini. Mungkin kita sudah bisa menilai bagaimana pelaksanaan pemilu yang di gembar gemborkan sebagai pemilu paling buruk di antara pelaksanaan pemilu sebelumnya. Kalau di lihat dari persiapannya bisa di katakan pemerintah belum siap sepenuhnya, DPT yang bermasalah distribusi logistik yang tidak tepat waktu dan kurangnya sosialisai tata cara pencontrengan adalah salah satu bukti ketidaksiapan pemerintah dalam melaksanan pemilu legeslatif tahun 2009 ini.

Terlepas dari semua itu tapi masih ada kaitannya dengan pemilu mari sejenak kita tengok bagaimana masyrakat kita dalam menentukan pilihannya, apakah masyarakat sudah pintar atau masih seperti dulu hanya sekedar mengharapakan pemberian sesaat yang sering kita dengar dengan istilah serangan fajar. Jawabannya adalah iya, hal ini di buktikan dengan kenyataan di lapangan dimana masyrakat kita masih belum memahami betul arti politik. Mungkin karena pendidikan politik di kalangan masyarakat masih sangat kurang yang menyebabkan masyarakat kita masih berfikiran sempit dalam mengartikan politik. Di sebuah kabupaten yang belum lama terbentuk persaingan di kalangan caleg sangat ketat terutama celeg untuk DPRD kabupaten, mereka menempuh berbagai cara untuk meraup suara dari masyrakat, mulai dari memberi sumbangan sampai politik uang alias serangan fajar. Dari sekian banyak cara para caleg untuk mendapatkan suara serangan fajar adalah yang paling efektif, terbukti sekali dengan banyaknya suara yang di dapat caleg bahkan rata rata mereka melenggang ke kursi DPR. Kenyataan ini bertolak belakang sekali dengan apa yang di dapat caleg bermodal ketulusan dan dedikasi yang telah di berikan, mereka malah sama sekali tidak di lirik oleh masyarakat. Hal ini memang mengindikasikan masyarakat kita masih bodoh dan masih tergiur dengan uang 10 atau 20 ribu padahal mereka tidak pernah menyadari bahwa apa yang mereka terima itu harus dibayar mahal dengan menciptakan koruptor baru di anggota dewan. Salah satu contoh ada seorang caleg dari sebuah partai yang tidak perlu saya sebutkan nama partainya, saya tahu betul bagaimana caleg ini membina masyarakat tersebut bertahun tahun lamanya tapi sayang masyarakat lebih memilih uang daripada figur..

Perihal leonsmayra
Aku adalah aku

2 Responses to Rakyat Lebih Memilih Uang Daripada Figur

  1. Raffaell mengatakan:

    Saya sih maklum aja, karna uang di Indonesia itu sudah kebutuhan mendasar…

  2. wira mengatakan:

    hallo… thx atas kunjungannya

    kebetulan saya pernah nulis ini

    http://wirautama.net/menampilkan-bagde-facebook-di-blog/

    tapi untuk yang di wordpress saya juga belum tau😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: